Friday, May 01, 2015

Buat adik-adikku di kampung Kubu

Adik-adikku di kampung Kubu....

Mungkin adik-adikku sering melihat status di FB orang-orang yang tinggal di kota besar yang isinya hujatan dan makian terhadap pemerintah atau pejabat. Katanya pejabat yang tidak tau kerjalah, yang tidak peduli dengan rakyat lah yang tidak bermasyarakat lah. Hidup di kota susahlah.

Tapi ketahuilah wahai adik-adikku yang di kampung. Kenyataannya tidaklah semua pejabat seperti itu. Masih banyak pejabat yang pintar-pintar, yang giat bekerja, yang sangat peduli dengan rakyat dan bersosial. Abangmu selama di perantauan, banyak sekali pejabat-pejabat dan atasan-atasan yang membantu, banyak sekali yang peduli, di saat susah banyak yang mengulurkan tangan membantu. 

Jadi janganlah ikut berburuk sangka. Sehingga adik-adik takut untuk merantau ke kota dan lebih mimilih hidup di kampung. 

Hidup di kota itu enak. Orang-orang baiknya banyak. Yang suka menolong banyak. Jalan bagus, listrik 24 jam nyala. Tidak seperti susahnya hidup di kampung kita. Walaupun kampung kita punya sumber minyak tapi kita tidak menikmatinya. Jalan-jalan rusak, harga barang-barang jadi naik, harga pakaian dan makanan mahal, tidak ada air bersih, mandi dengan air yang berwarna kecoklatan dan berbau, minum dengan air hujan yang di tampung di tangki besar yang tak dibersihkan,  Bahan bakar hanya kita dapat beli dari jerigen-jerigen kecil yang di jual di warung-warung dengan harga tinggi, listrik sering padam. 

Jadi adik-adik, berbaik sangkalah, tetap semangat untuk menggapai cita-cita dan jangan jadi putus asa. Berbuat baiklah dimanapun dan dengan siapapun. Dengan berbuat baik niscaya kebaikan dan kemudahan akan didapat.

Wednesday, February 25, 2015

Sebaik-baik saya lebih baik orang lain

Ada kalimat yang tertanam dalam hati jamaah ini yaitu:
"Sebaik-baik saya lebih baik orang lain dan seburuk-buruk orang lain lebih buruk saya".
Pernah dengar jamaah tablig kan?
Kenapa jamaah ini terus berjalan dan belajar tanpa lelah.
Kenapa jamaah ini selalu sabar.
Siap dicaci dan dimaki.
Mau tau rahasianya?
Karena di dalam diri jamaah ini tidak ada ego.
Dan kalimat yang tertanam dalam hati jamaah ini yaitu kalimat di atas tadi:
"Sebaik-baik saya lebih baik orang lain dan seburuk-buruk orang lain lebih buruk saya".

Siapa itu orang lain yang lebih baik? mereka adalah anda. Karena itu anda didatangi

Foto Sakti mantan Personil Sheila ON 7 dulu dan sekarang bergabung dalam jamaah tabliq.


Wednesday, February 11, 2015

Kemenangan AAP yang mengusung Arvind Kejriwal menjadi chief minister ibu kota India tanpa batu akik

Pada tanggal 7 Februari 2015 lalu, India baru saja menghelat Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada)  untuk wilayah Delhi. Dari 70 kursi yang diperebutkan, Aam Aadmi Party (आम आदमी पार्टी) atau yang disingkat dengan AAP merebut 67 kursi dimana hanya 3 kursi sisanya diraih oleh  BJP, partai pemenang pemilu Nasional yang saat ini berkuasa, sedangkan satu partai nasional lainnya yaitu Indian National Congress tidak mendapatkan kursi sama sekali.

AAP hanyalah State party atau partai lokal yang baru lahir tanggal 26 November 2012 dengan pendiri partai Arvind Kejriwal. Partai yang berlambangkan sapu lidi ini ideologinya adalah Swaraj yang kalau diartikan yaitu  self-governance, partai tanpa dominasi pihak asing dan ideologi kedua dari partai ini yaitu anti-korupsi.

Kemenangan AAP yang mengusung Arvind Kejriwal menjadi chief minister  ibu kota India Delhi yang akan disumpah di Ramlila grounds pada sabtu, 14 February 2015 bukanlah kemenang biasa. Kemenangan AAP adalah kemenangan luar biasa, kemenangan rakyat Delhi yang sangat menanti perubahan. Perubahan pilihan rakyat dari yang sebelumnya memilih partai yang hanya memberikan janji kepada partai yang memiliki ciri khas pemimpin sederhana namun punya visi dan misi yang bijaksana. 

Arvind Kejriwal dalam kehidupan sehari-harinya terlihat sederhana. Sederhana dalam  berpenampilan, sederhana dalam pengawalan dan ramah pada orang bawah sesuai dengan arti partai yang ia pimpin Aam Aadmi Party yaitu Partai Rakyat Awam. Kesederhanaan Arvind Kejriwal juga dapat ditandai dengan dia tidak memakai cincin batu akik atau batu giok yang sekarang sedang populer dikalangan pejabat dan masyarakat Indonesia.

Foto Arvind Kejriwal (sebelah kiri). Sebelah kanan adalah sahabat saya Gede Wismagiri yang saya pandang sikapnya mirip Arvind Kejriwal, senyumnya juga mirip ya :-) , saya  doakan nanti bisa jadi gubernur Bali.

 




Wednesday, January 14, 2015

Tiga Golongan Manusia



Pertama adalah golongan pekerja atau buruh murni. Orang-orang dari golongan ini hari-harinya disibukkan dengan bekerja dan bekerja dan tak jarang tanpa istirahat. Dirinya hanya berfikir bagaimana cara mencari uang,  mengumpulkannya dan terus menghitung secara berulang-ulang seberapa banyak harta yang sudah dikumpulkan dan bahkan selalu menghitung seberapa banyak pula yang harus didapat dan tidak pernah terpikir sedikitpun untuk menyisihkannya untuk membantu orang lain atau untuk kepentingan sosial. Golongan ini seperti menganggap hidup adalah abadi dan selalu ketakutan akan kekurangan harta. Kehilangan sedikit harta merupakan musibah besar bagi orang-orang dari golongan ini. Mereka jika mau memberi 100 mikirnya 1000 kali dan jika mau memberi 1000 mikirinya sejuta kali.

Golongan yang kedua adalah golongan orang pencari pengakuan. Golongan ini sifatnya selalui ingin diakui sebagai orang yang paling berprestasi dan selalu ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa dia adalah terbaik diantara yang lain. Untuk mendapatkan pengakuan golongan ingin selalu haus jabatan bahkan jabatan di organisasi sosial dan hobby mengumpulkan sertifikat. Bekerja tanpa mendapatkan jabatan bagi golongan ini adalah seperti sia-sia.

Golongan yang ketiga adalah golongan para pengabdi. Mereka adalah orang-orang yang rela mengabdikan diri, harta dan waktunya untuk kepentingan orang lain dan kepentingan sosial. Mereka berbuat kebaikan apapun tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan pujian, sertifikat maupun pengakuan apapun namanya. Golongan ini adalah kumpulan orang-orang yang yakin bahwa tuhan pasti menolong orang-orang yang menolong orang lain, dan meringankan beban orang lain. Orang-orang dari golongan ini bahkan memberikan hartanya buat membantu orang lain meskipun mereka sendiri tidak memiliki harta yang berlebih, memberikan bantuan meskipun mengorbankan diri mereka sendiri. Orang-orang dari golongan ini memiliki ketenangan jiwa karena hatinya tidak diperuntukkan dan tidak dipenuhi dengan hal-hal duniawi yang nantinya pasti akan ditinggalkan. Inilah golongan orang-orang yang disebut Allah dalam firmannya "Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah (mengabdikan) diri kepada Ku" (QS. Adz Dzariyaat ayat 56).